Mengenalkan Kembali Permainan Betawi

Dunia bermain memang tak ada habisnya kita bahas. Selalu punya cerita dibalik gelak tawa adik-adik. Permainan tradisional sebagai aset anak negeri harus kembali diperkenalkan.

Permainan “Tak Kadal” adalah salah satu dari sekian banyak permainan anak-anak. Permainan Tak Kadal berasal dari daerah Betawi. Permainan ini terinspirasi dari peristiwa kagetnya anak-anak pada saat melihat kadal. Kemudian kadal tersebut melompat lebih jauh setelah dipukul.

Kisah tersebut selanjutnya dibuatlah permainan yang menyerupai memukul kadal tadi. Di beberaoa daerah juga dikenal permainan serupa dengan nama Kalawadi.

Adik-adik pasti merasakan betapa mengasyikkan memainkan permainan ini dan lebih keren daripada bermain gadget. Salam Pramuka….

SAATNYA KITA BERBENAH DAN TIDAK PERLU DIPERKERUH

Peristiwa “makan diatas rumput” kegiatan Pramuka di Kota Tangerang harus menjadi koreksi kita bersama. Reaksi Negatif Masyarakat harus kita lihat sebagai bentuk kepedulian kepada kita (Pramuka). Bukan saatnya saling menyalahkan, sudahkah kita melakukan pembinaan dan pengembangan SDM Pembina dan Pelatih secara utuh. Saya kira disitulah pertanyaan besarnya…

Peristiwa tersebut merupakan “ekses” dari kegagalan sistim pendidikan kepramukaan yang selama ini tidak disadari oleh para Petinggi di Kwartir Nasional. Omong Kosong kegiatan pramuka hari ini berorientasi pada pembentukan karakter.

Sungguh disayangkan sikap “reaksioner” dari Kwartir Nasional maupun Kementerian terkait dengan Organisasi Pramuka terhadap peristiwa ini. Seharusnya dilakukan tindakan yang lebih bijaksana dan tidak sekedar “menyalahkan”.

Hari ini Publik melihat, mencermati dan mungkin memojokkan kita (Pramuka)…

Pembina dan Pelatih begitu asyik dengan “dunia” nya…. Organisasi Pramuka hanya sebagai “tempat singgah” saja dalam kegiatan politik. belum lagi terjebak dengan kondisi “nyaman” sebagai anak emas yang menikmati APBN. Hilang Kreatifitas, hilang akal sehat dan hilang nalar… !!!

Saya kira, saatnya kita Para Pembina dan Pelatih berbenah… membaca lagi, mau belajar lagi…. dan mau mendengar para pemangku kepentingan (stakeholder)… (1) Perbaiki konsep pembekalan pembina/pelatih, (2) buat dan kembangkan konsep pengembangan SDM yang berkualitas, (3) berikan kesempatan (ruang) bagi pemangku kepentingan untuk belajar, (4) tingkatkan hubungan kemitraan dan kelembagaan….

Peristiwa hari ini TIDAK PERLU DIPERKERUH, lokalisasi dan cari solusi untuk kita semua berbenah. Bahwa hari ini mencoreng wajah Pramuka, harus kita terima sebagai bentuk “perhatian dan kasih sayang” dari pemangku kepentingan untuk kita (Pramuka) menjadi lebih baik.

#visi25
#SetiaSiapSedia
#buatjadinyata
#bangunperadaban
#ISJ818

SIAPAKAH PRAMUKA GARUDA…?

Pembahasan siapa sesungguhnya Pramuka Garuda akhir-akhir ini ramai diperdebatkan mulai dari tingkat Nasional hingga Gugus Depan. Cukup miris, Gerakan Pramuka diusianya yang ke 55 tahun ini, masih banyak Para Pembina di Indonesia tidak memahami makna sesungguhnya seorang Pramuka Garuda. Sejatinya Pramuka Garuda merupakan anak remaja dan atau pemuda terbaik dan terlatih dan mampu menjadi teladan bagi orang-orang disekelilingnya. Kesenjangan pemahaman akan siapa sesungguhnya seorang Pramuka Garuda menggelitik Warta Pramuka Tangsel melakukan sedikit ulasan khusus pada terbitan perdana ini.

Kegagalan Para Pembina Pramuka dalam memahami konsep dan metode dalam proses pencapaian Pramuka Garuda dikalangan peserta didik ditengerai oleh minimnya minat membaca referensi (materi ajar) mengenai Pramuka Garuda. Dalam beberapa diskusi, banyak dikalangan Pembina berpendapat bahwa cukup mengacu dengan SK. Kwarnas Nomor 180.A Tahun 2008 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Pramuka Garuda, seorang peserta didik dapat dilantik sebagai Pramuka Garuda.

Bilamana kita cermati, subtansi SK. Kwarnas Nomor 180.A Tahun 2008 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Pramuka Garuda hanya bersifat formalitas (hal-hal yang bersifat formal) sehingga mengesampingkan substansi daripada pencapaian Pramuka Garuda itu sendiri, yakni berupa karya nyata yang dapat dirasakan langsung oleh orang lain (masyarakat). Tidaklah cukup menghantarkan peserta didik kita untuk mencapai Pramuka Garuda hanya dengan merujuk pada SK. Kwarnas Nomor 180.A Tahun 2008.

Secara konseptual, keberadaan Pramuka Garuda sebagaimana tertuang SK. Kwarnas Nomor 180.A Tahun 2008 harus ditinjau kembali. Siapa sesungguhnya yang layak mengemban tanggung jawab sebagai Pramuka Garuda. Pramuka Garuda sejatinya merupakan sosok pramuka yang tersiapkan (memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisiknya (sesosif). Pramuka Garuda bukanlah pencapaian formal layaknya kenaikan tingkatan kepangkatan umum (ramu, rakit dan terap pada Pramuka Penggalang).

Parameter pencapaian adalah sebuah karya yang dapat dirasakan oleh masyarakat atau orang-orang yang ada disekelilingnya. Dalam konteks ini, TRISATYA menjadi pisau utama untuk mengukur sejauh mana program Pramuka Garuda ini dinyatakan berhasil. Kebermanfaatan setiap tindakan seorang Pramuka Garuda merupakan bagian utama yang harus menjadi panduan para Pembina.

Menjadi Teladan

Menjadi Pramuka Garuda sesungguhnya merupakan penggalian nilai-nilai kehidupan untuk menjadi teladan bagi orang disekeliling (disekitarnya). Berkenaan dengan hal tersebut, keberadaan Pramuka Garuda sejatinya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat itu sendiri.

Takkan ada “teladan” di dalam masyarakat kita bila kita tidak belajar dan menggalinya. Karena sejatinya kita lahir dari rahim Gerakan Pramuka untuk menjadi individu yang mampu mewarnai dinamika masyarakat. TRISATYA bukan sekedar slogan belaka, tidak cukup kita lafazkan namun harus menjadi “POLA PIKIR” (the way of life) bagi Setiap Pramuka. SETIA, SIAP, SEDIA harus dibumikan menjadi sebuah visi masa depan yang akan menjadi jawaban atas persoalan bangsa pada hari ini.

Kitalah sesungguhnya yang paling memahami apa dan bagaimana format Gerakan Pramuka dimasa depan. Namun kadang kita tidak mau memahami dan menggali nilai-niali yang hidup di dalam keseharian kita. Mengutip aoa yang disampaikan oleh Rheinald Kasali, Ph.D, “tak perduli berapa jauh jalan salah yang anda jalani, putar arah sekarang juga”. Mari kita benahi dan kembalikan Pramuka menjadi “Organisasi Gerakan”. Kita putar haluan agar Gerakan Pramuka mendapatkan kembali “jiwa” yang hilang.

Perubahan menuntut tiga hal sekaligus agar tercapai suatu harapan yakni Melihat, Bergerak dan Menyelesaikan sampai tuntas. Artinya perubahan tersebut harus terstruktur dan terencana. Pramuka sebagai “Organisasi Gerakan” harus dinamis dan mampu beradapatasi dengan perkembangan jaman namun tidak kehilangan identitas diri. Membumikan “SETIA, SIAP, SEDIA” merupakan langkah awal bagi kita untuk mengenalkan kembali nilai luhur bangsa. Melalui metode yang tepat dan terarah (Metode VISI 25), pramuka akan menjadi mesin penghasil sekaligus penggiat perubahan. Salam Perubahan…. Maju terus Pramuka Indonesia.

FORMAT PRAMUKA SEBAGAI “ORGANISASI GERAKAN” DIMASA DEPAN

Perjalanan 55 tahun Gerakan Pramuka menyisakan beberapa pekerjaan rumah yang sangat fundamental. Satu dasawarsa, Revitalisasi Gerakan Pramuka yang pernah digagas oleh Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bermuara tanpa hasil. Tujuan Revitalisasi Gerakan Pramuka dapat dipastikan jauh dari harapan. Mau kemana Pramuka hari ini…? Quo Vadis Pramuka Indonsia…? Kiranya pertanyaan tersebut akan menjadi pangkal bagi kita untuk memperluas perspektif (wawasan) kita sebagai bagian dari perjalanan negeri ini. Bahwa Pramuka hari ini memiliki persoalan yang perlu diselesaikan dengan segera dan dalam tempo yang singkat-singkatnya.

Setidaknya terdapat dua hal yang ingin dicapai dalam Revitalisasi Gerakan Pramuka antara lain (1) Eksistensi Gerakan Pramuka di dalam masyarakat dan (2) Pramuka menjadi wadah pendidikan watak, kepribadian dan budi pekerti. Tujuan Revitalisasi Gerakan Pramuka tersebut secara teknis mudah untuk diwacanakan namun sangat sulit untuk di-implementasikan.

Secara konseptual, Gerakan Pramuka telah salah diterjemahkan oleh para pemangku kepentingan di bidang kepramukaan. Sehingga kemudian, kegiatan Pramuka saat ini sangat monoton dan tidak memberikan nilai tambah bagi peserta didik. Pasal 1 ayat (1) UU No 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka yang menerangkan : “ Gerakan Pramuka adalah organisasi yang dibentuk oleh Pramuka untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan”. Definisi Gerakan Pramuka di dalam Pasal 1 ayat (1) UU No 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka tersebut telah membuktikan ketidapahaman pembuat kebijakan dalam memahami substansi dari gerakan kepanduan di Indonesia.

Lahirnya Gerakan Pramuka di Indonesia pada masa pergerakan nasional (sejak masa Hindia Belanda sampai dengan Masa Setelah Kemerdekaan), dimana para pemuda dan pemudi melakukan segala daya upaya untuk mempertahankan tanah air dan bangsanya. Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan negeri tercinta merupakan pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepanduan di Indonesia pada saat itu.

Pada masa pergerakan itulah Gerakan Pramuka lahir di bumi pertiwi, dengan semangat itulah kepanduan lahir di Indonesia. Disinilah letak persoalannya mengapa kemudian Gerakan Pramuka seolah hilang “jiwa” nya. Saat ini Gerakan Pramuka bukanlah “organisasi gerakan” sebagaimana pernah dicita-citakan oleh para pendiri negara ini. Sebagai organisasi gerakan sudah seharusnya adaptif dan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas asli Pramuka Indonesia. Sehingga kegiatan maupun aktifitas yang dilakukan tidaklah monoton dan mampu memberikan nilai tambah pada peserta didik.

 

Format Masa Depan

Sebagai organisasi gerakan, sudah seharusnya Gerakan Pramuka menitikberatkan pada proses pembentukan kader, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan mental. Kata kuncinya adalah “proses” yang terukur dan tersistematisasi serta dikemas menjadi sebuah program berkelanjutan yang menarik dan menantang.

SKU (Syarat Kecakapan Umum) dan SKK (Syarat Kecakapan Khusus) selama ini dianggap sebagai representasi dari metodologi kepramukaan harus dievaluasi lebih lanjut. Kondisi tersebut diperparah dengan rendahnya pemahaman serat kreatifitas Pembina dan Palatih dalam menyampaikan materi kepramukaan. Tidak terstrukturnya materi yang diberikan dan minimnya minat membaca dikalangan para Pembina dan Pelatih menyebabkan minimnya pemahaman peserta didik mengenai materi kepramukaan.

Pendidikan kepramukaan sejatinya merupakan suatu metode pendadaran bagi setiap peserta didik untuk mendapatkan pemahaman mengenai kehidupan yang sesungguhnya (kehidupan nyata). Sebagai sebuah proses, pendidikan kepramukaan harus dapat menggali nilai-nilai dasar bangsa Indonesia yang hidup sejak dulu sampai dengan hari ini.

Sebagai organisasi “GERAKAN”, Pramuka harus bertranformasi dengan nilai-nilai yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat. Tidak larut dalam kesenangan belaka namun juga harus memberikan manfaat bagi sekeliling. Dalam satu dasawarsa, Pramuka begitu asik dengan dirinya sendiri. Menyikapi keadaan tersebut, kita perlu satukan visi kembali untuk apa dan mau kemana Pramuka hari ini akan melangkah.

Penggalian nilai-nilai dasar sebagai bangunan utama organisasi akan menjadi titik awal dalam menformat masa depan Gerakan Pramuka. Nilai-nilai dasar tadi merupakan identitas bagi setiap pramuka yang berorientasi pada masa depan. “VISI 25” pada kesempatan ini akan diperkenalkan sebagai metodologi yang berorientasi pada proses penggalian nilai-nilai bangsa yang berorientasi pada pembentukan pemimpin masa depan yang sadar bertuhan dan berwawasan kebangsaan serta penggiat perubahan (agent of change).

TRISATYA Sebagai Pola Pikir

Konsep “pandu” seakan terkikis dan nyaris tak mendapatkan tempat dalam keseharian. Melebur (terjebak) ke dalam aktifitas dan kegiatan yang bersifat seremonial saja.   Kriteria pencapaian dan kinerja sebatas “gugur tugas”, kemandirian pribadi dan organisasi jauh panggang dari api, kreatifitas dan inovasi masuk ke ranah stagnansi…   Jika demikian halnya, takkan pernah lahir seorang “pandu” (leader) dari Gerakan Pramuka.

Takkan ada “teladan” di dalam masyarakat kita. Karena sejatinya kita lahir dari rahim Gerakan Pramuka untuk menjadi individu yang mampu mewarnai dinamika masyarakat. TRISATYA bukan sekedar slogan belaka, tidak cukup kita lafazkan namun harus menjadi “POLA PIKIR” (the way of life) bagi Setiap Pramuka. SETIA, SIAP, SEDIA harus dibumikan menjadi sebuah visi masa depan yang akan menjadi jawaban atas persoalan bangsa pada hari ini.

Kitalah sesungguhnya yang paling memahami apa dan bagaimana format Gerakan Pramuka dimasa depan. Namun kadang kita tidak mau memahami dan menggali nilai-niali yang hidup di dalam keseharian kita. Mengutip aoa yang disampaikan oleh Rheinald Kasali, Ph.D, “tak perduli berapa jauh jalan salah yang anda jalani, putar arah sekarang juga”. Mari kita benahi dan kembalikan Pramuka menjadi Organisasi Pergerakan. Kita putar haluan agar Gerakan Pramuka mendapatkan kembali “jiwa” yang hilang.

Perubahan menuntut tiga hal sekaligus agar tercapai suatu harapan yakni Melihat, Bergerak dan Menyelesaikan sampai tuntas. Artinya perubahan tersebut harus terstruktur dan terencana. Pramuka sebagai “Organisasi Gerakan” harus dinamis dan mampu beradapatasi dengan perkembangan jaman namun tidak kehilangan identitas diri. Membumikan “SETIA, SIAP, SEDIA” merupakan langkah awal bagi kita untuk mengenalkan kembali nilai luhur bangsa. Melalui metode yang tepat dan terarah (Metode VISI 25), pramuka akan menjadi mesin penghasil penggiat perubahan. Semoga…. Maju terus, terus maju…

Sumber :  “Change” : Melihat, bergerak dan Menyelesaikan Perubahan, Reinald Kasali, hal 114

 

Indonesia Masih Lebih Baik… Kurangi Hukuman di Pasal 27 ayat (3) UU ITE

Indonesia masih lebih baik ketimbang negara lain (seperti Chili, Columbia, Peru, Pakistan dan India). Kebijakan dan peraturan mengenai internet boleh di bilang Indonesia lebih maju. Bagaimana tidak, penangkapan (penjara) blogger/netter bukanlah hal yang luar biasa. Peru misalnya, beberapa jurnalis sudah dinyatakan bersalah oleh Pengadilan karena memberikan kritik kepada Pemerintah. Demikian juga dengan India, yang ternyata memiliki persoalan dalam pengaturan mengenai internet.

Cerita lain lagi dari Pakistam, penguasa bisa melakukan blocking terhadap percakapan telepon dan internet. Pemerintah bahkan mengeluarkan kebijakan youtube sebagai situs berbayar. gilaaaa…. bahkan negara Columbia masih fokus pada perlindungan hak cipta (copyright).

UU ITE yang menjadi momok bagi para blogger/netter di Indonesia ternyata belum seberapa… bila dicermati, rumusan di dalam UU ITE Pasal 27 ayat 3 memang memiliki beban pembuktian yang membebani Jaksa, namun dalam prakteknya Polisi-lah yang justru mengambil “keuntungan” dari hal ini. Meski belum ada orang blogger/Netter yang dipenjara, kita harus mulai berpikir untuk meminimalisir “penyalahgunaan” kekuasaan/kewenangan dapat menjadikan UU ITE tersebut penghambat dalam kebebasan berekspresi. Pengurangan hukuman di dalam Pasal 27 ayat 3, dari paling lama 6 tahun menjadi 4 tahun merupakan salah satu cara untuk meminimalisir “abuse” dari mereka yang menjalankan undang-undang.

 

 

 

Tahu Sumedang vs Perlindungan HAKI

Sumedang (060213). Siapa yang tidak kenal dengan panganan tahu Sumedang yang hampir setiap hari menghiasi jalanan ibukota. Sebagai “kekayaan intelektual” masyarakat Sumedang yang konon telah dimulai sejak tahun 1917. Bermula dari kreativitas yang dimiliki oleh Ongkino, yang memang semenjak awal sebagai orang yang pertama kali memiliki ide untuk memproduksi  Tou Fu (dari bahasa Tionghoa, Hokkian yang dibaca “tau hu“, yang berarti sama) yang lambat laun menjadi berubah nama menjadi “Tahu”.

Pada tahun 1928, Bupati Sumedang mendatangi (Pangeran Soeria Atmadja) mendatangi kediaman Ong Bung Keng (keturunan dari Ongkino) yang kebetulan pada saat itu sedang menggoreng panganan ringan tersebut. Siapa sangka sang Bupati pun jatuh cinta dengan panganan sederhana dari negeri China tersebut dan menyampaikan panganan tersebut akan laris jika dijual ke masyarakat.

Sejarah telah mencatat dan menjadikan “Tahu Bungkeng” sebagai cikal bakal “Tahu Sumedang” sebagai kekayaan kuliner nasional. Namun timbul pertanyaan, siapa sesungguhnya pemilik atau pemegang hak ekonomis atas kehadiran Tahu Sumedang di khazanah nusantara. Bilamana kita telusuri sejarah tentunya keluarga Bungkenglah yang kemudian menjadi pemegang hak ekonomis atas panganan ringan tersebut, karena kelaurga tersebutlah untuk pertama kalinya memperkenalkan panganan tahu ini di masyarakat Kota Sumedang.

Namun penggunaan nama “Sumedang” dibelakang kata “tahu” ini menjadikan Kota Sumedang dikenal sebagai salah satu penghasil tahu yang memiliki cita rasa khusus (ciri khas tersendiri). Jaman terus berubah dan waktupun berjalan, produksi Tahu Sumedang-pun tidak lagi di produksi di kota asalnya. Kemudian Tahu Sumedang pun telah memasyarakat dan diproduksi oleh masyarakat serta dijadikan sumber penghasilan bagi masyarakat. Singkat cerita, Tahu Sumedang telah menjadi industri masyarakat tradisional yang terus berkembang.

Bagaimana kemudian industri Tahu Sumedang ini dalam perspektif perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI). Hak kekayaan Intelektual merupakan hak ekslusif yang diberikan oleh negara bagi pencipta/penemu dan atau pemegang hak atas hasil temuan/ciptaan/karya intelektual yang memiliki nilai ekonomis. Tidak bisa dipungkiri Tahu Sumedang yang konon diproduksi untuk pertama kalinya di Kota Sumedang merupakan karya intelektual dari masyakarat Kota Sumedang yang digagas untuk pertama kalinya oleh Keluarga Bungkeng.

Bagaimana campur tangan negara mengenai hal ini, khususnya dalam memberikan perlindungan hak kekayaan intelektual bagi “kekayaan intelektual” masyarakat kota Sumedang. Faktanya, industri Tahun Bungkeng terus berkembang, sementara masyarakat kota Sumedang tidak dapat berbuat banyak. Tidak bisa dipungkiri bahwa prinsip perlindungan HKI di dalam masyarakat komunal tidak dapat berjalan sebagaimana diatur di dalma undang-undang.

 

 

 

What about the detailed features of the iPage Hosting Plan?