FORMAT PRAMUKA SEBAGAI “ORGANISASI GERAKAN” DIMASA DEPAN

Perjalanan 55 tahun Gerakan Pramuka menyisakan beberapa pekerjaan rumah yang sangat fundamental. Satu dasawarsa, Revitalisasi Gerakan Pramuka yang pernah digagas oleh Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bermuara tanpa hasil. Tujuan Revitalisasi Gerakan Pramuka dapat dipastikan jauh dari harapan. Mau kemana Pramuka hari ini…? Quo Vadis Pramuka Indonsia…? Kiranya pertanyaan tersebut akan menjadi pangkal bagi kita untuk memperluas perspektif (wawasan) kita sebagai bagian dari perjalanan negeri ini. Bahwa Pramuka hari ini memiliki persoalan yang perlu diselesaikan dengan segera dan dalam tempo yang singkat-singkatnya.

Setidaknya terdapat dua hal yang ingin dicapai dalam Revitalisasi Gerakan Pramuka antara lain (1) Eksistensi Gerakan Pramuka di dalam masyarakat dan (2) Pramuka menjadi wadah pendidikan watak, kepribadian dan budi pekerti. Tujuan Revitalisasi Gerakan Pramuka tersebut secara teknis mudah untuk diwacanakan namun sangat sulit untuk di-implementasikan.

Secara konseptual, Gerakan Pramuka telah salah diterjemahkan oleh para pemangku kepentingan di bidang kepramukaan. Sehingga kemudian, kegiatan Pramuka saat ini sangat monoton dan tidak memberikan nilai tambah bagi peserta didik. Pasal 1 ayat (1) UU No 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka yang menerangkan : “ Gerakan Pramuka adalah organisasi yang dibentuk oleh Pramuka untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan”. Definisi Gerakan Pramuka di dalam Pasal 1 ayat (1) UU No 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka tersebut telah membuktikan ketidapahaman pembuat kebijakan dalam memahami substansi dari gerakan kepanduan di Indonesia.

Lahirnya Gerakan Pramuka di Indonesia pada masa pergerakan nasional (sejak masa Hindia Belanda sampai dengan Masa Setelah Kemerdekaan), dimana para pemuda dan pemudi melakukan segala daya upaya untuk mempertahankan tanah air dan bangsanya. Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan negeri tercinta merupakan pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepanduan di Indonesia pada saat itu.

Pada masa pergerakan itulah Gerakan Pramuka lahir di bumi pertiwi, dengan semangat itulah kepanduan lahir di Indonesia. Disinilah letak persoalannya mengapa kemudian Gerakan Pramuka seolah hilang “jiwa” nya. Saat ini Gerakan Pramuka bukanlah “organisasi gerakan” sebagaimana pernah dicita-citakan oleh para pendiri negara ini. Sebagai organisasi gerakan sudah seharusnya adaptif dan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas asli Pramuka Indonesia. Sehingga kegiatan maupun aktifitas yang dilakukan tidaklah monoton dan mampu memberikan nilai tambah pada peserta didik.

 

Format Masa Depan

Sebagai organisasi gerakan, sudah seharusnya Gerakan Pramuka menitikberatkan pada proses pembentukan kader, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan mental. Kata kuncinya adalah “proses” yang terukur dan tersistematisasi serta dikemas menjadi sebuah program berkelanjutan yang menarik dan menantang.

SKU (Syarat Kecakapan Umum) dan SKK (Syarat Kecakapan Khusus) selama ini dianggap sebagai representasi dari metodologi kepramukaan harus dievaluasi lebih lanjut. Kondisi tersebut diperparah dengan rendahnya pemahaman serat kreatifitas Pembina dan Palatih dalam menyampaikan materi kepramukaan. Tidak terstrukturnya materi yang diberikan dan minimnya minat membaca dikalangan para Pembina dan Pelatih menyebabkan minimnya pemahaman peserta didik mengenai materi kepramukaan.

Pendidikan kepramukaan sejatinya merupakan suatu metode pendadaran bagi setiap peserta didik untuk mendapatkan pemahaman mengenai kehidupan yang sesungguhnya (kehidupan nyata). Sebagai sebuah proses, pendidikan kepramukaan harus dapat menggali nilai-nilai dasar bangsa Indonesia yang hidup sejak dulu sampai dengan hari ini.

Sebagai organisasi “GERAKAN”, Pramuka harus bertranformasi dengan nilai-nilai yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat. Tidak larut dalam kesenangan belaka namun juga harus memberikan manfaat bagi sekeliling. Dalam satu dasawarsa, Pramuka begitu asik dengan dirinya sendiri. Menyikapi keadaan tersebut, kita perlu satukan visi kembali untuk apa dan mau kemana Pramuka hari ini akan melangkah.

Penggalian nilai-nilai dasar sebagai bangunan utama organisasi akan menjadi titik awal dalam menformat masa depan Gerakan Pramuka. Nilai-nilai dasar tadi merupakan identitas bagi setiap pramuka yang berorientasi pada masa depan. “VISI 25” pada kesempatan ini akan diperkenalkan sebagai metodologi yang berorientasi pada proses penggalian nilai-nilai bangsa yang berorientasi pada pembentukan pemimpin masa depan yang sadar bertuhan dan berwawasan kebangsaan serta penggiat perubahan (agent of change).

TRISATYA Sebagai Pola Pikir

Konsep “pandu” seakan terkikis dan nyaris tak mendapatkan tempat dalam keseharian. Melebur (terjebak) ke dalam aktifitas dan kegiatan yang bersifat seremonial saja.   Kriteria pencapaian dan kinerja sebatas “gugur tugas”, kemandirian pribadi dan organisasi jauh panggang dari api, kreatifitas dan inovasi masuk ke ranah stagnansi…   Jika demikian halnya, takkan pernah lahir seorang “pandu” (leader) dari Gerakan Pramuka.

Takkan ada “teladan” di dalam masyarakat kita. Karena sejatinya kita lahir dari rahim Gerakan Pramuka untuk menjadi individu yang mampu mewarnai dinamika masyarakat. TRISATYA bukan sekedar slogan belaka, tidak cukup kita lafazkan namun harus menjadi “POLA PIKIR” (the way of life) bagi Setiap Pramuka. SETIA, SIAP, SEDIA harus dibumikan menjadi sebuah visi masa depan yang akan menjadi jawaban atas persoalan bangsa pada hari ini.

Kitalah sesungguhnya yang paling memahami apa dan bagaimana format Gerakan Pramuka dimasa depan. Namun kadang kita tidak mau memahami dan menggali nilai-niali yang hidup di dalam keseharian kita. Mengutip aoa yang disampaikan oleh Rheinald Kasali, Ph.D, “tak perduli berapa jauh jalan salah yang anda jalani, putar arah sekarang juga”. Mari kita benahi dan kembalikan Pramuka menjadi Organisasi Pergerakan. Kita putar haluan agar Gerakan Pramuka mendapatkan kembali “jiwa” yang hilang.

Perubahan menuntut tiga hal sekaligus agar tercapai suatu harapan yakni Melihat, Bergerak dan Menyelesaikan sampai tuntas. Artinya perubahan tersebut harus terstruktur dan terencana. Pramuka sebagai “Organisasi Gerakan” harus dinamis dan mampu beradapatasi dengan perkembangan jaman namun tidak kehilangan identitas diri. Membumikan “SETIA, SIAP, SEDIA” merupakan langkah awal bagi kita untuk mengenalkan kembali nilai luhur bangsa. Melalui metode yang tepat dan terarah (Metode VISI 25), pramuka akan menjadi mesin penghasil penggiat perubahan. Semoga…. Maju terus, terus maju…

Sumber :  “Change” : Melihat, bergerak dan Menyelesaikan Perubahan, Reinald Kasali, hal 114

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

What about the detailed features of the iPage Hosting Plan?