Peristiwa “makan diatas rumput” kegiatan Pramuka di Kota Tangerang harus menjadi koreksi kita bersama. Reaksi Negatif Masyarakat harus kita lihat sebagai bentuk kepedulian kepada kita (Pramuka). Bukan saatnya saling menyalahkan, sudahkah kita melakukan pembinaan dan pengembangan SDM Pembina dan Pelatih secara utuh. Saya kira disitulah pertanyaan besarnya…
Peristiwa tersebut merupakan “ekses” dari kegagalan sistim pendidikan kepramukaan yang selama ini tidak disadari oleh para Petinggi di Kwartir Nasional. Omong Kosong kegiatan pramuka hari ini berorientasi pada pembentukan karakter.
Sungguh disayangkan sikap “reaksioner” dari Kwartir Nasional maupun Kementerian terkait dengan Organisasi Pramuka terhadap peristiwa ini. Seharusnya dilakukan tindakan yang lebih bijaksana dan tidak sekedar “menyalahkan”.
Hari ini Publik melihat, mencermati dan mungkin memojokkan kita (Pramuka)…
Pembina dan Pelatih begitu asyik dengan “dunia” nya…. Organisasi Pramuka hanya sebagai “tempat singgah” saja dalam kegiatan politik. belum lagi terjebak dengan kondisi “nyaman” sebagai anak emas yang menikmati APBN. Hilang Kreatifitas, hilang akal sehat dan hilang nalar… !!!
Saya kira, saatnya kita Para Pembina dan Pelatih berbenah… membaca lagi, mau belajar lagi…. dan mau mendengar para pemangku kepentingan (stakeholder)… (1) Perbaiki konsep pembekalan pembina/pelatih, (2) buat dan kembangkan konsep pengembangan SDM yang berkualitas, (3) berikan kesempatan (ruang) bagi pemangku kepentingan untuk belajar, (4) tingkatkan hubungan kemitraan dan kelembagaan….
Peristiwa hari ini TIDAK PERLU DIPERKERUH, lokalisasi dan cari solusi untuk kita semua berbenah. Bahwa hari ini mencoreng wajah Pramuka, harus kita terima sebagai bentuk “perhatian dan kasih sayang” dari pemangku kepentingan untuk kita (Pramuka) menjadi lebih baik.
#visi25
#SetiaSiapSedia
#buatjadinyata
#bangunperadaban
#ISJ818